vendredi 20 avril 2007

If I Ask To, Would You Forgive?

In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful...


Bagian Pertama


Anak laki-laki berambut hitam itu duduk di cabang paling atas Uncle Crooks, pohon oak tua yang tumbuh di depan jendela perpustakaan. Ia bersandar pada batang pohon itu, bersiul pelan sambil mengelap sayap sebuah pesawat kayu kecil merah dengan ujung kemeja kotak-kotak birunya.


Eugene sialan! umpatku dalam hati. Kalau punya sepupu senakal ini, lebih baik tidak usah saja!

“Geene! Turuun!” teriakku. “Kembalikan Rhett Butler-ku!”

Gene tertawa. “Rhett Buttler? Maksudmu pesawat merah ini?”

Wajahku terasa panas. Kali ini Eugene benar-benar keterlaluan. Aku marah sekali. Marah karena dia mengambil pesawat merah kesayanganku begitu saja. Dan marah pada diriku sendiri, yang memberinya alasan untuk menertawaiku.

Aimee bodoh! Kenapa menamai pesawat itu Rhett, hanya karena cat merahnya yang begitu berkilau?

“Hey, Aimee!” panggil Gene. Aku mendongak. “Wah, wajahmu semerah Rhett Butler!” katanya di sela-sela tawa.

Ugh! Rasanya ingin kutonjok saja wajahnya yang menyebalkan itu!

“Gene, dengar!” kataku dengan nada mengancam. “Kembalikan pesawat itu sekarang, atau aku akan…”

“Sekarang?” Eugene tersenyum jahil. “Oke, kebetulan aku juga ingin melihat seberapa hebat ia bisa terbang.”

Aku tercengang. Gene berdiri di cabang itu, mengangkat Rhett Butler setinggi bahu, dan tanpa mempedulikan teriakan-teriakan panikku (“Jangan, Gene! Please! Eugene!!”), ia tersenyum dan menerbangkan Rhett Butler, seakan pesawat kayu itu hanyalah pesawat dari kertas lipat yang biasa dibuatnya.

Pesawat kecil itu melayang perlahan, warna merahnya yang berkilau terlihat begitu cerah dilatarbelakangi langit biru musim panas. Hanya sesaat, kemudian pesawat itu mulai oleng, dan cepat serta tak terkendali ia jatuh berputar-putar. Akhirnya pesawat merah itu menghantam tanah dengan suara ‘KRAK!’ yang mengerikan.

Aku segera berlari menuju pesawat itu. Aku tahu apa yang kuharapkan tak mungkin terwujud, tapi aku tetap berharap pesawat itu tidak mengalami kerusakan yang parah.

Aku berlutut di hadapan pesawat itu. Aku tak dapat melihatnya dengan jelas karena air mata sudah mengaburkan pandanganku. Tetapi ada satu hal yang kuketahui dengan pasti. Hatiku hancur bersamaan dengan hancurnya pesawat merah itu.

“A-aimee?” terdengar suara terbata-bata dari balik punggungku. Suara Gene.

Eugene… Semua ini gara-gara Eugene!!

Penuh kemarahan aku berdiri dan berbalik menatap wajahnya yang kini tampak pucat dan khawatir. Air mata semakin deras membasahi pipiku.

“Aimee, a-aku..”

Gene tak pernah menyelesaikan kalimatnya, karena tiba-tiba saja aku sudah melepas sepatu kananku dan melemparkan sepatu itu ke arahnya kuat-kuat.

TAKK!!

Tepat mengenai dahi sebelah kanannya. Darah mengucur deras dari luka yang diakibatkan sepatu itu.

Darah! Darah mengalir menuruni pipinya, membasahi kemeja kotak-kotak birunya… Terus, terus… seakan tanpa akhir.

Aku takut! Takut, takut sekali! Aku tidak berani melihat lagi!

Kujatuhkan diriku di dekat pesawat merah yang sudah hancur itu.

Gene mati! Mati! Aimee pembunuh!

Tidak! Tidak! Bukan aku! Itu salah Gene. Eugene yang salah!!

Aku menelungkup di atas tanah yang basah, memeluk pesawat kecil itu sambil menangis tersedu-sedu.

Bukan aku! Gene yang bersalah!!

***

Kenangan itu kembali terlintas di benakku. Pohon oak tua, senyum Eugene, pesawat, dan darah. Setiap detilnya masih dapat kuingat dengan jelas, meski lima tahun telah berlalu sejak saat itu.

Lima tahun… dan aku masih mengingatnya dengan jelas, seakan peristiwa itu baru terjadi sore kemarin. Lima, atau sepuluh tahun dari sekarang, apakah aku masih akan mengenang kejadian itu seperti saat ini?

Aku menghela nafas panjang. Tak hanya sepuluh tahun. Mungkin kenangan itu akan kubawa sampai aku mati. Seperti kebencian yang kurasakan terhadap pemuda berseragam militer di sudut ruangan itu. Eugene Francis Miller.

Kupandangi sosok yang tengah menenangkan seorang gadis yang sedang tersedu-sedu itu. Dan aku sedikit tertegun melihatnya mengulurkan sepucuk sapu tangan putih dari balik jas hijau tuanya.

Eugene yang sekarang bukanlah Eugene yang mengelap apapun dengan ujung kemeja kotak-kotaknya. Sepanjang liburan musim panas ini, kuperhatikan ia selalu membawa sepucuk sapu tangan dalam saku celana panjangnya, seperti pemuda-pemuda lain yang tahu bagaimana bersopan santun.

Ia bukan pula anak laki-laki bengal yang selalu membuat orang menangis. Ia adalah seorang pemuda tampan yang baru saja diterima di West Point. Seorang perwira militer.

Aku memalingkan wajah, dan menaiki tangga menuju ke kamarku. Muak rasanya melihat gadis itu terus mencucurkan air mata.

Dia tidak hendak pergi berperang, kan? Dia kan tidak menghadapi risiko kematian di sana? Demi Tuhan, dia hanya hendak melanjutkan sekolah!

***

Aku baru saja memasuki ruang makan untuk sarapan ketika tiba-tiba Eugene masuk dengan seragam lengkapnya. Ia menarik kursi, dan duduk di seberang meja. Persis di hadapanku.

Kuhirup decaf-ku perlahan-lahan, sementara nafsu makanku menguap begitu saja.

Gene menuang kopi ke dalam cangkir, dan secara tak terduga, ia memulai pembicaraan.

“Aku belum memberimu selamat,” katanya ramah. “Fakultas Hukum di Harvard, kan? Aimee, itu sungg..”

“Yale,” potongku tajam. “Fakultas Hukum di Yale.”

Alis Gene yang tebal itu terangkat.

“Yale?” kata Gene tak percaya. “Kau lulus keduanya dan kau memilih Yale? Kupikir Harvard adalah impianmu sejak kecil.”

Untuk pertama kalinya sejak ia pulang, aku menatap wajahnya. Terlihat olehku bekas luka di dahi kanannya. Hatiku terasa pedih.

Tak sanggup berada di sini lebih lama dengannya, aku berdiri. Sambil memalingkan wajah, aku berkata, “Waktu berlalu, Gene. Banyak hal telah berubah.”

“Kecuali kebencianmu padaku,” jawab Gene getir.

Aku menoleh, dan tatapannya yang dalam dan menusuk menyambutku.

Aku tersenyum. “Bagus jika kau mengerti.”

***

Kukayuh sepedaku kuat-kuat melintasi jalan yang membelah ladang bunga matahari milik Uncle Shep.

Eugene

Menyedihkan, menyedihkan.

Sungguh menyedihkan diriku ini. Hanya dapat meninggalkan kesan yang begitu keliru, begitu salah.

***

Kubuka mataku perlahan-lahan. Awalnya semua tampak samar-samar, lalu mulai terlihat jelas jendela kamarku, sinar matahari sore menerobos masuk, membentuk leret-leret panjang yang menyilaukan.

Lalu wajah Mama, menatapku khawatir.

Ada apa? Kenapa Mama menatapku seperti itu?

“Aimee? Dahlin’?” panggil Mama lembut.

Tiba-tiba aku teringat. Uncle Crooks. Pesawat. Langit. Darah…

Darah!!

“Mama! Eugene! Bu-bukan Aimee yang salah! Bukan, Ma—” ujarku panik.

Mama memelukku erat. “Tenang, tenang, Sayang...”

“Tapi Eugene maatiii…” aku langsung menangis lagi.

Mama melepaskan pelukannya, dan menatapku lagi. Anehnya, Mama terlihat sedikit geli.

“Mati? Tapi Eugene tidak mati, Aimee sayang. Dia sedang makan sup di dapur bersama Hellen.”

Aku melongo.

“Aimee tidak percaya?” tanya Mama. “Bagaimana kalau Mama panggilkan dia, supaya Aimee percaya?”

“Tidak, tidak. Aimee ingin melihatnya sendiri,” jawabku sambil turun dari tempat tidur.

Mama membimbingku berjalan ke dapur.

Aku mengintip dari balik tembok, dan di sana kulihat Eugene, sedang makan sup dan roti dengan lahapnya. Dahinya diperban. Ia terlihat seperti pangeran dari negeri timur yang memakai sorban di kepalanya.

Eugene masih hidup.

“Sekarang Aimee percaya, kan?” tanya Mama lembut.

Percaya? Entahlah… Ini terlalu menakjubkan untuk menjadi kenyataan.

***

Mungkin ada sesuatu yang salah dengan otakku, aku tidak mengerti. Tapi selama berminggu-minggu setelah itu, aku hidup dengan keyakinan bahwa Eugene hidup hanya jika aku melihatnya dari jauh. Jika aku menyentuhnya, atau berbicara dengannya, ia akan menghilang begitu saja, ke tempat di mana ia seharusnya berada.

Memang seperti itu keadaannya. Itulah hukuman yang harus kuterima karena aku telah melukainya seperti itu.

Itulah alasan mengapa aku tidak pernah mau menemuinya, dan mendengarnya meminta maaf padaku, seberapapun kerasnya semua orang membujukku.

Sampai hari terakhir Eugene tinggal bersama kami.

Aku mengunci diri di kamar, diam memandangi serpihan-serpihan yang tersisa dari Rhett Butler-ku yang hebat.

Terdengar ketukan di pintu. Aku sudah beranjak dari tempat tidur ketika kudengar suara Eugene dari balik pintu.

“Aimee? Aimee, boleh aku berbicara denganmu sebentar?”

Tidak, tidak boleh!

Aku diam, menutup telinga dengan kedua tanganku.

Tidak boleh!!

“… Baiklah jika kau memang tidak ingin berbicara denganku,” kata Eugene lagi. “Aku mengerti jika kau tak dapat memaafkanku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku sangat menyesali perbuatanku. Maaf…”

Ada jeda yang cukup lama. Aku sedikit ragu-ragu.

Aku bukannya tidak mau memaafkanmu…

“Selamat tinggal.”

Kemudian terdengar langkah-langkah panjang di koridor, semakin lama semakin pelan dan jauh.

Aku diam. Memandangi Rhett Butler yang sudah hancur.

Aku ingin mengejarnya dan meminta maaf karena telah melukainya.

Tapi bagaimana jika… Jika dia menghilang? Jika ternyata ia benar-benar sudah meninggal?

Tidak, tidak! Pemikiran bodoh macam apa ini? Kalaupun dia harus mati setelah aku bertemu dengannya, paling tidak dia mati setelah tahu bahwa aku tidak marah padanya, aku sudah memaafkannya.

Bahwa aku terlalu sayang padanya untuk tidak memaafkannya.

Aku berlari keluar kamar, menuruni tangga dan terus berlari ke halaman.

Saat itu Buick merah yang membawa Eugene pergi sudah melewati gerbang dan berbelok. Hanya kepulan debu yang tersisa.

Aku berhenti di depan pintu, terengah-engah.

Terlambat.

Benar-benar sudah terlambat.

***

“Helen, sepertinya ovennya sudah panas. Kita masukkan adonannya sekarang?” tanyaku.

“Mari saya lihat. Ya, Miss Aimee, masukkan saja sekarang. Hati-hati tanganmu, jangan sampai terbakar,” jawab Helen.

Aku memasukkan adonan kue ke dalam oven sambil bersenandung.

Hari ini Eugene akan datang. Setelah lima tahun, akhirnya aku dapat bertemu dengannya. Nanti, aku akan berbaik-baik padanya. Aku akan bersikap ramah. Aku akan meminta maaf padanya karena telah melukainya. Juga atas sikapku yang buruk selama ini.

Jika ia sudah memaafkanku, aku akan membuat kue, lalu mengajaknya ke Spring Creek. Menonton festival api unggun. Ke rumah Uncle Shep dan melihat ladang bunga matahari…

Terdengar derum mobil melintasi halaman. Aku menoleh, lalu berjalan ke arah jendela. Buick merah. Seorang pria tinggi berseragam militer keluar, diikuti pemuda berambut hitam yang memakai kemeja biru laut.

“Helen! Itu Eugene dan Paman Arthur!” ujarku senang.

“Oh, kau benar, Miz Aimee!” pekik Helen senang. “Sana, kau sambutlah mereka, biar saya yang mengeluarkan kuenya jika sudah matang.”

Aku segera berjalan ke pintu depan. Ketika aku tiba, Papa tengah menyalami Paman Arthur dan Mama memeluk Eugene.

“Kau tinggi sekali sekarang, Nak,” kata Mama. “Dan semakin tampan saja.”

Eugene tersenyum ramah.

Aku berdiri di samping Papa, menyalami Paman Arthur.

“Dan siapa gadis cantik ini?” tanya Mama.

Aku menoleh. Gadis cantik?

Baru sekarang kusadari, ada seorang gadis seusiaku berdiri di samping Eugene. Rambutnya ikal, berwarna coklat gelap seperti matanya yang bulat. Ia memakai gaun berenda kuning muda. Dan ia tersenyum manis.

“Ini Marlene Walker, Aunt Louise,” kata Eugene ramah. “Putri Kolonel Robert Walker…”

Mama menjabat tangan gadis itu dan tersenyum.

“… Tunangan saya,” Eugene melanjutkan.

***

Tidak ada sikap ramah, tidak ada permintaan maaf, tidak ada kue, tidak ada ladang bunga matahari. Tidak ada… apapun.

Eugene tidak pernah mengerti. Aku marah sekali padanya karena tiba-tiba saja ia pulang dan sudah bertunangan dengan orang lain.

Padahal aku sudah menunggu-nunggunya.

Padahal aku sudah mau memaafkannya.

Padahal aku ingin meminta maaf padanya.

Padahal aku…

WAAA!! Darimana jeep itu datang??!

“AWAAAS!!”

“Rem, Private, rem!!”

Oh, I shall die! I shall die!!

CKIIIIIT!!! BRAKK!!

***

Pelan-pelan kubuka mataku. Aku masih hidup! Di balik kaca depan jeep yang nyaris menabrakku, dua orang berseragam hijau memandangiku. Yang satu memandangiku khawatir, dan yang lain terlihat sangat kesal.

“Dasar bodoh!” omel pemuda bertampang kesal itu sambil menyalakan mesin kembali. Ia segera menekan pedal gas dan jeep itu berlalu pergi. Pemuda itu masih mengomel dan mengumpat.

Ya Tuhan… aku masih hidup…

Aku menghela nafas lega. Rupanya aku sempat menghentikan sepeda di saat-saat terakhir. Masih memegang stang, aku menoleh ke arah jeep yang melaju kencang itu.

Jeep militer. Yang hampir menabrakku tadi tentara. Sama seperti ayah gadis itu. Sama seperti Eugene. Dan Eugene-lah yang membuatku melamun tadi.

Tentara, tentara! Semua tentara menyebalkan!

“Tentara sialaaan!!” teriakku kesal, membelah langit musim panas Louisiana.

***

Lampu-lampu sudah dinyalakan ketika aku pulang. Kubuka pagar, sambil memandang langit senja berwarna ungu yang dihiasi bintang. Pintu samping sudah ditutup. Pasti Mrs Jackson sudah mengunci pintu itu.

Kutuntun sepedaku melintasi halaman, dan kusandarkan ia pada batang Uncle Crooks. Beberapa ekor kunang-kunang beterbangan di antara daun pohon tua ini.

Kutengadahkan wajah, memandang langit. Bulan keperakan bersinar lembut. Cahayanya tenang, seperti mutiara yang berkilauan.

Aku sudah melangkahkan kaki menuju beranda ketika kusadari ada yang berbeda dengan rumah ini. Ada sesuatu yang berubah dari malam-malam sebelumnya.

Aku berhenti, lalu mundur beberapa langkah. Kupandangi bangunan bercat putih di hadapanku ini lekat-lekat. Atap merahnya, lampu-lampu yang memancarkan sinar dari balik jendela…

Ah, lampu itu. Ya, lampu itu.

Malam ini jendela paling utara di lantai dua itu terlihat gelap. Lampu di ruangan itu tidak dinyalakan. Karena pemilik kamar itu pergi hari ini.

Ya, hari ini Eugene kembali ke West Point.

Kupandangi jendela gelap itu. Rasanya aneh, ada satu jendela yang gelap sementara jendela-jendela lain begitu terang.

Mungkin… aku sedikit merasa kehilangan.

Aku menghela nafas panjang.

Sudahlah… Besok aku juga harus pergi. Mungkin kesibukan di kampus akan membuatku melupakan semua ini. Kuharap begitu. Karena jika tidak, hidupku akan berat sekali.

Kupandang sekali lagi jendela tanpa cahaya itu. Lalu kuteruskan langkah menuju teras. Aku membuka pintu dan tersenyum lebar. Wangi cake vanilla kesukaanku memenuhi udara.

***

Aucun commentaire:

Enregistrer un commentaire

little birds told me: