lundi 20 août 2007
The Beginning ~ James Potter & Lily Evans
Bagian Pertama
Oleh James Potter
Kami berempat—aku, Sirius, Remus, dan Peter masih cekikikan di bangku kami di belakang kelas, tertawa pada lelucon Sirius tentang boggart dan kentang ketika aku mendengar seseorang berdehem di sebelahku.
Aku menoleh dan mendapati Lily Evans menatapku tajam. Bola matanya yang hijau terang itu berkilauan.
“James Potter,” panggilnya. “Kau pasti tidak mendengar apa yang dikatakan Profesor Slughorn.”
Aku tersinggung juga mendengar tuduhannya itu. Tapi aku diam saja, karena toh tuduhannya itu benar dan beralasan.
“Dan kau pasti terus memperhatikan James sampai bisa menebak bahwa ia tidak mendengar kata-kata Slughorn,” kata seseorang. Seperti yang sudah kuduga, Sirius-lah yang mengatakannya. Dia paling anti kalah dari cewek. “Aku tahu James memukau, Evans, tapi sebenarnya kau tidak perlu memandangnya terus seperti itu,” tambahnya dengan cengiran lebar. Aku menyikut rusuknya keras.
Sekilas tampaknya Lily juga hendak memukul Sirius, tapi sepertinya ia memilih untuk menahan diri.
“Memangnya apa kata Profesor?” Yang bertanya kali ini adalah Remus Lupin. Sudah dua kali ia menengahi pertengkaran Lily dan Sirius. Nampaknya kali ini pun demikian. “Maaf, Lily, tadi kami terlalu asyik bercanda.”
“Kita—kau dan aku, James, sekelompok untuk pelajaran kali ini. Sedangkan Remus, kau sekelompok dengan Sirius. Peter Pettigrew, kau dengan Annabelle Hopkins,” jawab Lily.
Aku bangkit dari tempat duduk. “Oke. Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku.
“Slughorn menyuruh setiap kelompok membuat ramuan yang berbeda. Di akhir pelajaran, ia akan meminta kita untuk menebak ramuan apa yang kita buat itu dari bahan-bahan dan ciri-cirinya,” jawab Lily panjang lebar. “Dan sebaiknya kita segera mulai kalau ingin selesai tepat pada waktunya.”
“Ah, beruntung sekali kita punya Miss Evans yang brilian ini,” kata Sirius, tersenyum cerah. “Tidak perlu khawatir jika lain kali kita punya lelucon yang bagus. Dia pasti menerangkan apa yang kita lewatkan!”
“Jangan harap,” jawab Lily dingin.
Aku membereskan buku-buku dan pena buluku, kemudian berjalan bersama Lily ke salah satu meja di bagian depan untuk mengerjakan tugas kami. Saat itu kudengar Sirius berkata, “Thanks, Evans!”
Dan anehnya, dari sudut mata kulihat Lily tersenyum geli.
***
Bagian Kedua
Oleh Lily Evans
Menyenangkan juga bekerja dengan James. Tadinya aku sudah berprasangka buruk bahwa dia akan mengacaukan semuanya. Tetapi tidak. Ia cukup terampil menakar bahan-bahan dan ia mau bolak-balik ke meja depan untuk mengambil bahan-bahan ramuan kami. Praktis, yang perlu kulakukan hanyalah membacakan instruksinya dan mengaduk ramuan itu.
Dari sudut mata kupandangi sosok yang tengah mengupas akar Valerian itu. Rambut hitamnya yang acak-acakan terlihat semakin acak-acakan saja. Dan kacamatanya sedikit berembun terkena uap ramuan. Lucu, dia kelihatan berantakan sekali. Tapi manis!
”Aduh!”
PRANG!
Aku menoleh. Pisau perak James sudah jatuh ke lantai, dan kulihat darah mengucur deras dari jari telunjuk kirinya.
“James!” ujarku terkejut. “Harusnya kau biarkan aku saja yang mengupas akar Valerian itu… Sini, kemarikan tanganmu.”
“Sudah, sudah, tidak apa-apa,” jawab James, mengusapkan darahnya pada bagian samping jubahnya.
“Kemarikan!” ujarku tegas sambil menarik tangan James.
Sepertinya ia terkejut mendengar kata-kataku barusan. Tetapi ia diam dan menurut, seperti anak kecil.
“Ferula,” ujarku sambil mengetukkan tongkatku pelan di jari yang luka itu. Perban putih bersih segera menggulung dan menutup rapat luka itu. “Sudah,” kataku. “Tapi nanti minta pada matron untuk mengobatinya, ya. Jangan dibiarkan, nanti bisa infeksi.”
“Thanks… Lily,” kata James pelan.
Aku tersenyum.
***
Bagian Terakhir
Oleh James Potter
“Lumayan, James,” kata Remus sambil tersenyum. “Dengan sedikit latihan lagi pasti kau bisa melakukannya dengan lebih baik.”
“Thanks, Remus,” jawabku, memandangi balutan tak rapi di jari telunjuk kiriku.
Remus baru saja mengajariku mantra untuk membalut luka, sama seperti yang tadi dirapalkan Lily untuk membalut lukaku. Tapi mantraku tidak seberhasil mantra Lily. Aku ingat sekali balutan rapi yang tadi dibuatnya. Beda sekali dengan balutanku, yang penuh dengan benang-benang kasa yang mencuat keluar.
“Oke James, aku harus ke perpustakaan sekarang,” kata Remus sambil bangkit dari kursinya. “Aku pergi dulu, ya.”
Aku mengangguk, dan merebahkan diriku di tempat tidur Remus sementara ia mengambil dua kitab bersampul hitam dari atas meja, lalu keluar.
Aku kembali teringat kejadian siang tadi. Kepanikan Lily dan ketegasannya. Persis seperti Mum waktu aku masih kecil. Waktu jariku teriris saat aku memotong sendiri kue coklat yang ada di dapur. Kue yang sebenarnya tidak boleh dimakan sebelum Grandma dan Grandpa datang…
Kenapa, ya, ia sepanik itu saat melihat jariku terluka?
Apa ia memang selalu sebaik itu? Selalu penuh perhatian seperti itu?
Kukeluarkan perban bernoda darah yang ada di saku jubahku. Perban yang digunakan Lily untuk membalut lukaku. Perban yang diciptakan dengan mantranya.
Aku tersenyum.
Sudahlah, apapun alasannya, aku senang ia mengkhawatirkanku tadi. Aku senang ia membalut lukaku.
Dan aku senang sekali, hari ini aku sekelompok dengan Lily Evans.
*fin*
If
I know this is wrong. I realise it. But there’s nothing I can do. No matter how hard I try, I can’t deny my feeling. I’m total stupid. I’m falling for someone I should never be.
She’s not worth loving. Not by a great, dark wizard, a real Slytherin, like me.
I can never understand why sometimes life can be so unfounded, absurd, and… painful. Where’s my common sense when I need it most? All of this time, how can I lose my rationality and let my heart control my mind? Foolish!
Why it should be her?
If only she were not a Gryffindor. If only she were of pure blood. If only she weren’t that white.
If only she weren’t Lily Evans…
***
King’s Cross, the Last Year
God, why should you create such a lovely thing?
Maybe I’ll never be able to see her bright green eyes anymore. She’ll never be smiling back at me. The smell of her sweet perfume will not linger in the air that I breathe…
You’ve ruined my life. You’ve torn me apart. You’re just my shattered dream. And you’re unforgiven.
I will never be able to forget you.
“Sev?”
Now that you’re standing in front of my eyes, I don’t know what to say.
***
Spring, the next year
“If someday you want… Another way…”
No. It won’t happen. This is my way, and I don’t want another.
“Just think about it. And if someday you change your mind… Don’t you understand how—“
“No, I understand.”
I can always understand you. You don’t have to say what’s running through your mind just to make me understand.
But you know that nothing can change my mind. Not even your pleading green eyes.
“Think about it all over again, Sev.”
“I won’t change my decision.”
Stop looking at me like that. You know you can’t change me.
“I only wish that you will find the right way. Your own way. And your own happiness.”
The right way? I have found my right way.
And happiness?
Should I care about it anymore? After you leave?
***
The last autumn
ruin of the Potter's house
If I had known what the future would bring.
If I had found the right way.
If I had listened to your every word…
I shouldn’t have let you go.
I shouldn’t have let him take you away from me.
I should have been the one who protected you.
Who loved you.
for Severus Snape,
a lover in silence.
mardi 5 juin 2007
..
now it's easy ^ ^
thanks buat Kay yang membuatku tergerak untuk mengedit settingnya...
vendredi 20 avril 2007
If I Ask To, Would You Forgive?
In the Name of Allah, the Most Gracious, the Most Merciful...
Bagian Pertama
Anak laki-laki berambut hitam itu duduk di cabang paling atas Uncle Crooks, pohon oak tua yang tumbuh di depan jendela perpustakaan. Ia bersandar pada batang pohon itu, bersiul pelan sambil mengelap sayap sebuah pesawat kayu kecil merah dengan ujung kemeja kotak-kotak birunya.
“Geene! Turuun!” teriakku. “Kembalikan Rhett Butler-ku!”
Gene tertawa. “Rhett Buttler? Maksudmu pesawat merah ini?”
Wajahku terasa panas. Kali ini
Aimee bodoh! Kenapa menamai pesawat itu Rhett, hanya karena cat merahnya yang begitu berkilau?
“Hey, Aimee!” panggil Gene. Aku mendongak. “Wah, wajahmu semerah Rhett Butler!” katanya di sela-sela tawa.
Ugh! Rasanya ingin kutonjok saja wajahnya yang menyebalkan itu!
“Gene, dengar!” kataku dengan nada mengancam. “Kembalikan pesawat itu sekarang, atau aku akan…”
“Sekarang?”
Aku tercengang. Gene berdiri di cabang itu, mengangkat Rhett Butler setinggi bahu, dan tanpa mempedulikan teriakan-teriakan panikku (“Jangan, Gene! Please!
Pesawat kecil itu melayang perlahan, warna merahnya yang berkilau terlihat begitu cerah dilatarbelakangi langit biru musim panas. Hanya sesaat, kemudian pesawat itu mulai oleng, dan cepat serta tak terkendali ia jatuh berputar-putar. Akhirnya pesawat merah itu menghantam tanah dengan suara ‘KRAK!’ yang mengerikan.
Aku segera berlari menuju pesawat itu. Aku tahu apa yang kuharapkan tak mungkin terwujud, tapi aku tetap berharap pesawat itu tidak mengalami kerusakan yang parah.
Aku berlutut di hadapan pesawat itu. Aku tak dapat melihatnya dengan jelas karena air mata sudah mengaburkan pandanganku. Tetapi ada satu hal yang kuketahui dengan pasti. Hatiku hancur bersamaan dengan hancurnya pesawat merah itu.
“A-aimee?” terdengar suara terbata-bata dari balik punggungku. Suara Gene.
Penuh kemarahan aku berdiri dan berbalik menatap wajahnya yang kini tampak pucat dan khawatir. Air mata semakin deras membasahi pipiku.
“Aimee, a-aku..”
Gene tak pernah menyelesaikan kalimatnya, karena tiba-tiba saja aku sudah melepas sepatu kananku dan melemparkan sepatu itu ke arahnya kuat-kuat.
TAKK!!
Tepat mengenai dahi sebelah kanannya. Darah mengucur deras dari luka yang diakibatkan sepatu itu.
Darah! Darah mengalir menuruni pipinya, membasahi kemeja kotak-kotak birunya… Terus, terus… seakan tanpa akhir.
Aku takut! Takut, takut sekali! Aku tidak berani melihat lagi!
Kujatuhkan diriku di dekat pesawat merah yang sudah hancur itu.
Gene mati! Mati! Aimee pembunuh!
Tidak! Tidak! Bukan aku! Itu salah Gene.
Aku menelungkup di atas tanah yang basah, memeluk pesawat kecil itu sambil menangis tersedu-sedu.
Bukan aku! Gene yang bersalah!!
***
Kenangan itu kembali terlintas di benakku. Pohon oak tua, senyum
Aku menghela nafas panjang. Tak hanya sepuluh tahun. Mungkin kenangan itu akan kubawa sampai aku mati. Seperti kebencian yang kurasakan terhadap pemuda berseragam militer di sudut ruangan itu. Eugene Francis Miller.
Kupandangi sosok yang tengah menenangkan seorang gadis yang sedang tersedu-sedu itu. Dan aku sedikit tertegun melihatnya mengulurkan sepucuk sapu tangan putih dari balik jas hijau tuanya.
Ia bukan pula anak laki-laki bengal yang selalu membuat orang menangis. Ia adalah seorang pemuda tampan yang baru saja diterima di West Point. Seorang perwira militer.
Aku memalingkan wajah, dan menaiki tangga menuju ke kamarku. Muak rasanya melihat gadis itu terus mencucurkan air mata.
Dia tidak hendak pergi berperang,
***
Aku baru saja memasuki ruang makan untuk sarapan ketika tiba-tiba
Kuhirup decaf-ku perlahan-lahan, sementara nafsu makanku menguap begitu saja.
Gene menuang kopi ke dalam cangkir, dan secara tak terduga, ia memulai pembicaraan.
“Aku belum memberimu selamat,” katanya ramah. “Fakultas
“Yale,” potongku tajam. “Fakultas Hukum di Yale.”
Alis Gene yang tebal itu terangkat.
“Yale?” kata Gene tak percaya. “Kau lulus keduanya dan kau memilih Yale? Kupikir Harvard adalah impianmu sejak kecil.”
Untuk pertama kalinya sejak ia pulang, aku menatap wajahnya. Terlihat olehku bekas luka di dahi kanannya. Hatiku terasa pedih.
Tak sanggup berada di sini lebih lama dengannya, aku berdiri. Sambil memalingkan wajah, aku berkata, “Waktu berlalu, Gene. Banyak hal telah berubah.”
“Kecuali kebencianmu padaku,” jawab Gene getir.
Aku menoleh, dan tatapannya yang dalam dan menusuk menyambutku.
Aku tersenyum. “Bagus jika kau mengerti.”
***
Kukayuh sepedaku kuat-kuat melintasi jalan yang membelah ladang bunga matahari milik Uncle Shep.
Menyedihkan, menyedihkan.
Sungguh menyedihkan diriku ini. Hanya dapat meninggalkan kesan yang begitu keliru, begitu salah.
***
Kubuka mataku perlahan-lahan. Awalnya semua tampak samar-samar, lalu mulai terlihat jelas jendela kamarku, sinar matahari sore menerobos masuk, membentuk leret-leret panjang yang menyilaukan.
Lalu wajah Mama, menatapku khawatir.
“Aimee? Dahlin’?” panggil Mama lembut.
Tiba-tiba aku teringat. Uncle Crooks. Pesawat. Langit. Darah…
Darah!!
“Mama!
Mama memelukku erat. “Tenang, tenang, Sayang...”
“Tapi Eugene maatiii…” aku langsung menangis lagi.
Mama melepaskan pelukannya, dan menatapku lagi. Anehnya, Mama terlihat sedikit geli.
“Mati? Tapi Eugene tidak mati, Aimee sayang. Dia sedang makan sup di dapur bersama Hellen.”
Aku melongo.
“Aimee tidak percaya?” tanya Mama. “Bagaimana kalau Mama panggilkan dia, supaya Aimee percaya?”
“Tidak, tidak. Aimee ingin melihatnya sendiri,” jawabku sambil turun dari tempat tidur.
Mama membimbingku berjalan ke dapur.
Aku mengintip dari balik tembok, dan di
“Sekarang Aimee percaya,
Percaya? Entahlah… Ini terlalu menakjubkan untuk menjadi kenyataan.
***
Mungkin ada sesuatu yang salah dengan otakku, aku tidak mengerti. Tapi selama berminggu-minggu setelah itu, aku hidup dengan keyakinan bahwa
Memang seperti itu keadaannya. Itulah hukuman yang harus kuterima karena aku telah melukainya seperti itu.
Itulah alasan mengapa aku tidak pernah mau menemuinya, dan mendengarnya meminta maaf padaku, seberapapun kerasnya semua orang membujukku.
Sampai hari terakhir
Aku mengunci diri di kamar, diam memandangi serpihan-serpihan yang tersisa dari Rhett Butler-ku yang hebat.
Terdengar ketukan di pintu. Aku sudah beranjak dari tempat tidur ketika kudengar suara
“Aimee? Aimee, boleh aku berbicara denganmu sebentar?”
Tidak, tidak boleh!
Aku diam, menutup telinga dengan kedua tanganku.
Tidak boleh!!
“… Baiklah jika kau memang tidak ingin berbicara denganku,” kata
Aku bukannya tidak mau memaafkanmu…
“Selamat tinggal.”
Kemudian terdengar langkah-langkah panjang di koridor, semakin lama semakin pelan dan jauh.
Aku diam. Memandangi Rhett Butler yang sudah hancur.
Aku ingin mengejarnya dan meminta maaf karena telah melukainya.
Tapi bagaimana jika… Jika dia menghilang? Jika ternyata ia benar-benar sudah meninggal?
Tidak, tidak! Pemikiran bodoh macam apa ini? Kalaupun dia harus mati setelah aku bertemu dengannya, paling tidak dia mati setelah tahu bahwa aku tidak marah padanya, aku sudah memaafkannya.
Bahwa aku terlalu sayang padanya untuk tidak memaafkannya.
Aku berlari keluar kamar, menuruni tangga dan terus berlari ke halaman.
Saat itu Buick merah yang membawa
Aku berhenti di depan pintu, terengah-engah.
Terlambat.
Benar-benar sudah terlambat.
***
“Helen, sepertinya ovennya sudah panas. Kita masukkan adonannya sekarang?” tanyaku.
“Mari saya lihat. Ya, Miss Aimee, masukkan saja sekarang. Hati-hati tanganmu, jangan sampai terbakar,” jawab Helen.
Aku memasukkan adonan kue ke dalam oven sambil bersenandung.
Hari ini
Jika ia sudah memaafkanku, aku akan membuat kue, lalu mengajaknya ke Spring Creek. Menonton festival api unggun. Ke rumah Uncle Shep dan melihat ladang bunga matahari…
Terdengar derum mobil melintasi halaman. Aku menoleh, lalu berjalan ke arah jendela. Buick merah. Seorang pria tinggi berseragam militer keluar, diikuti pemuda berambut hitam yang memakai kemeja biru laut.
“Helen! Itu Eugene dan Paman Arthur!” ujarku senang.
“Oh, kau benar, Miz Aimee!” pekik Helen senang. “
Aku segera berjalan ke pintu depan. Ketika aku tiba, Papa tengah menyalami Paman Arthur dan Mama memeluk
“Kau tinggi sekali sekarang, Nak,” kata Mama. “Dan semakin tampan saja.”
Aku berdiri di samping Papa, menyalami Paman Arthur.
“Dan siapa gadis cantik ini?” tanya Mama.
Aku menoleh. Gadis cantik?
Baru sekarang kusadari, ada seorang gadis seusiaku berdiri di samping
“Ini Marlene Walker, Aunt Louise,” kata
Mama menjabat tangan gadis itu dan tersenyum.
“… Tunangan saya,”
***
Tidak ada sikap ramah, tidak ada permintaan maaf, tidak ada kue, tidak ada ladang bunga matahari. Tidak ada… apapun.
Padahal aku sudah menunggu-nunggunya.
Padahal aku sudah mau memaafkannya.
Padahal aku ingin meminta maaf padanya.
Padahal aku…
WAAA!! Darimana jeep itu datang??!
“AWAAAS!!”
“Rem, Private, rem!!”
Oh, I shall die! I shall die!!
CKIIIIIT!!! BRAKK!!
***
Pelan-pelan kubuka mataku. Aku masih hidup! Di balik kaca depan jeep yang nyaris menabrakku, dua orang berseragam hijau memandangiku. Yang satu memandangiku khawatir, dan yang lain terlihat sangat kesal.
“Dasar bodoh!” omel pemuda bertampang kesal itu sambil menyalakan mesin kembali. Ia segera menekan pedal gas dan jeep itu berlalu pergi. Pemuda itu masih mengomel dan mengumpat.
Ya Tuhan… aku masih hidup…
Aku menghela nafas lega. Rupanya aku sempat menghentikan sepeda di saat-saat terakhir. Masih memegang stang, aku menoleh ke arah jeep yang melaju kencang itu.
Jeep militer. Yang hampir menabrakku tadi tentara. Sama seperti ayah gadis itu. Sama seperti
Tentara, tentara! Semua tentara menyebalkan!
“Tentara sialaaan!!” teriakku kesal, membelah langit musim panas
***
Lampu-lampu sudah dinyalakan ketika aku pulang. Kubuka pagar, sambil memandang langit senja berwarna ungu yang dihiasi bintang. Pintu samping sudah ditutup. Pasti Mrs Jackson sudah mengunci pintu itu.
Kutuntun sepedaku melintasi halaman, dan kusandarkan ia pada batang Uncle Crooks. Beberapa ekor kunang-kunang beterbangan di antara daun pohon tua ini.
Kutengadahkan wajah, memandang langit. Bulan keperakan bersinar lembut. Cahayanya tenang, seperti mutiara yang berkilauan.
Aku sudah melangkahkan kaki menuju beranda ketika kusadari ada yang berbeda dengan rumah ini.
Aku berhenti, lalu mundur beberapa langkah. Kupandangi bangunan bercat putih di hadapanku ini lekat-lekat. Atap merahnya, lampu-lampu yang memancarkan sinar dari balik jendela…
Ah, lampu itu. Ya, lampu itu.
Malam ini jendela paling utara di lantai dua itu terlihat gelap. Lampu di ruangan itu tidak dinyalakan. Karena pemilik kamar itu pergi hari ini.
Ya, hari ini
Kupandangi jendela gelap itu. Rasanya aneh, ada satu jendela yang gelap sementara jendela-jendela lain begitu terang.
Mungkin… aku sedikit merasa kehilangan.
Aku menghela nafas panjang.
Sudahlah… Besok aku juga harus pergi. Mungkin kesibukan di kampus akan membuatku melupakan semua ini. Kuharap begitu. Karena jika tidak, hidupku akan berat sekali.
Kupandang sekali lagi jendela tanpa cahaya itu. Lalu kuteruskan langkah menuju teras. Aku membuka pintu dan tersenyum lebar. Wangi cake vanilla kesukaanku memenuhi udara.
***
If I Ask To, Would You Forgive?
Bagian Kedua
Dear Aimee, apa kabar? Kuharap kau sehat-sehat saja, seperti kami semua di sini.
Aimee,
Sayang sekali kau tidak ada di sini. Semua orang berkumpul. Nenek, Papa, Mama, David, bahkan Paman Arthur dan Eugene-mu juga datang. Semuanya ikut membantu Richard dan aku memindahkan barang-barang dan menata perabotan. Setelah itu, selama dua hari kami bersenang-senang saja. Makan masakan Nenek yang lezat dan pergi ke Bayou St. Jacques.
Aimee,
Kami menantikan kedatanganmu musim dingin nanti. Kau pasti akan betah tinggal di rumah kami yang baru.
Oh ya, aku hampir lupa. Bulan depan (kira-kira saat
Salam dari semuanya di sini. Mama mengirim biskuit coklat, tapi katanya jangan dihabiskan sendiri kalau tidak ingin terlihat gemuk saat wisuda kelak.
Miss you so much, dear sister.
XOXOXOX
Diane
P.S. Jangan sedih karena tidak bertemu dengannya sebelum ia pergi, karena baru saja Gene menelepon dan katanya Desember nanti ia akan pulang ke
***
Kupandangi jendela gelap di lantai dua itu. Satu-satunya ruangan yang lampunya belum dinyalakan.
Kuhela nafas panjang.
Sudah tiga tahun aku berusaha melupakan dirinya. Tak perlu kukatakan bagaimana hasilnya. Gagal total. Aku tak bisa menghapus perasaanku padanya.
Dan sekarang… Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya. Aku akan melihatnya. Mungkin ia akan berbicara lagi denganku. Mungkin aku akan meninggalkannya begitu saja seperti waktu itu. Mungkin aku akan marah dan kesal berhari-hari melihatnya bersama gadis keluarga
Atau sebaliknya…?
Tapi bagaimana jika ia tidak…
“Aimee,” panggil Richard, kakak laki-lakiku, dari balik jendela mobil. “Kita masuk sekarang?”
Aku mengangguk dan turun dari Buick 1939 Richard.
***
“Kapan kau akan kemari?” tanya Diane langsung ketika aku meneleponnya setelah makan malam.
“Jangan besok, aku masih lelah sekali,” jawabku.
“Hmm… Lusa aku ada urusan, dan tanggal delapan ada acara amal yang harus kuhadiri…” Diane bergumam sendiri. “Tanggal tujuh. Ya, tanggal tujuh aku tak ada acara. Bagaimana menurutmu?”
“Setuju,” jawabku ceria.
“Kuajak kau ke rumah Auntie Chang, dan aku akan membawakan brownies favoritmu, oke?”
“Oke.”
***
Aku duduk memangku Michael yang terlelap sementara Diane mengemudi. Bewitched, Bothered, and Bewildered mengalun pelan dari radio. Sambil terkantuk-kantuk aku memandangi ladang Uncle Shep yang luas, ladang yang sama yang kulalui dengan sepeda beberapa tahun silam. Ketika aku meninggalkan
Hari ini aku, Diane, dan Michael mengunjungi Auntie Chang, sahabat Mama sejak Mama masih kecil. Auntie mengajari Diane membuat dimsum dan Puding-Patah-Hati, puding coklat lezat yang resepnya diciptakan sendiri oleh Auntie Chang ketika tunangannya meninggalkannya pulang ke
Sementara mereka mengaduk, melipat, mengukus dan tertawa-tawa di dapur, aku bermain dengan Michael. Benar-benar gila, anak itu seperti tidak ada capeknya. Ia terus bergerak, mengoceh, dan menjerit-jerit. Diane hebat sekali bisa mengurusnya sendiri, dengan kegiatannya yang bejibun itu.
Tapi sekarang, terlelap di pangkuanku dengan rambut ikalnya yang pirang, pipi gemuk kemerahan dan bibirnya yang sedikit terbuka, aku merasa bahwa tidak ada anak lain yang lebih menggemaskan dari Michael. Dan aku sayang sekali padanya. Sayaang… sekali.
Lalu aku bertanya-tanya apakah rasa sayangku pada Michael lebih besar daripada rasa sayangku pada
Aku mengangkat wajah dan terkejut sekali melihat Richard dan Dave, adik laki-lakiku, berdiri di
Aku turun pelan-pelan, masih memeluk Michael.
“Dave, kau terlalu cepat dua jam,” kataku padanya sambil memindahkan Michael yang masih terlelap pada pelukan Diane. “Kupikir aku memintamu untuk menjemputku jam sembilan?”
Dave tidak menjawab. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
“Aimee, pulanglah denganku,” katanya.
“Tapi aku masih ingin me—”
“Kumohon, Aimee, ikutlah denganku.”
Aku tertegun. Dave tidak pernah memohon. Tidak sekalipun. Tapi sekarang ia memohon padaku.
“B-baiklah, Dave. Tunggu sebentar…”
Aku menoleh. Diane dan Richard berdiri di
“It’s okay, sweetheart,” kata Diane, tersenyum lembut.
Richard menepuk pundakku. “Nanti kami susul,” katanya pelan.
***
Dave menghentikan mobil di depan gerbang. Kulihat pintu depan terbuka, dan semua lampu dinyalakan. Beberapa mobil nampak diparkir di dekat Uncle Crooks. Di depan kami, ada sebuah jeep militer.
Jeep militer.. Aku mendongak. Lampu di kamar
Dave tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke jendela di sisinya.
“Dave?” panggilku.
Ia tetap diam.
“Dave, ada apa ini?” tanyaku khawatir, memegang lengannya agar ia berpaling menghadapku.
“Dave, aku ingin tahu. Katakan padaku sekarang juga. Sebenarnya ada apa?”
Pelan, Dave menggerakkan kepalanya. Ia tidak menatapku, ia hanya menunduk.
“Dave?!” kuguncangkan lengannya.
Akhirnya ia menatapku.
“It’s
“Apa katamu?”
“Aunt Denise mendapat telegram… dari Kemiliteran.”
Aku memalingkan wajah ke luar jendela. Langit malam begitu kelam, tidak satupun bintang terlihat di
“Kau bercanda,
“Sepunuh hati aku berharap aku sedang bercanda,” jawab Dave, mengusap mata dengan lengan jaketnya.
Aku tertawa. “Kalau begitu kau berbohong.”
Kudekatkan wajahku pada Dave sambil mencengkeram erat lengan jaketnya. “Dengar, Dave,” bisikku penuh ancaman. “
“Aimee—”
“Tidak! Aku tidak mau mendengar omong kosong lagi!” teriakku sambil menutup telinga dengan kedua tangan.
“Aimee—”
“Aku—tak mau—dengar—lagi!” teriakku sambil membuka pintu mobil dan melompat keluar.
Masih menutup kedua telinga, aku berlari menyeberangi halaman.
Tidak, ini tidak mungkin benar!
Aku terus berlari.
Mama. Mama pasti tahu semua ini tidak benar.
Aku terus berlari.
“Mama! Mamaaa!!”
***
Aku nyaris jatuh tersandung kaki Helen ketika aku masuk. Aku menegakkan punggung dengan jengkel dan nyaris saja memarahinya karena ia duduk begitu saja di dasar tangga ketika kusadari sesuatu. Helen membenamkan wajah dalam gaun katun birunya. Ia menangis.
Aku menelan ludah. Kusentuh bahu Helen.
Helen mengangkat wajah. Bulir-bulir air mata menuruni pipinya. “Aku menggendongnya dalam pelukanku ketika ia lahir. Dia anak yang baik… Aku tahu ini akan terjadi. Dia seharusnya tidak pergi…”
Kulepaskan tanganku dari bahu Helen. Aku berlari ke ruang tengah.
“Ma!” panggilku sambil membuka pintu.
Apa yang kulihat membuatku nyaris kehilangan keseimbangan. Aku berpegang erat pada daun pintu, gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Paman Arthur duduk di kursi dekat perapian, memegang kapala dengan kedua tangan, menatap lantai tanpa ekspresi. Papa duduk di samping Paman, berkata pelan, entah apa.
Di dekat jendela, Mama memeluk Bibi Denise yang menangis terisak-isak. Di dekat mereka, seorang pria berseragam militer lengkap berdiri. Ia diam, tetapi matanya pun sembab.
Dingin… kepalaku sakit. Seseorang, peluklah aku dan katakan padaku semua ini tidak benar-benar terjadi.
Aku melangkah masuk, menunggu seseorang memelukku.
Tolong aku…
Aku berjalan mendekat, masih menanti. Tidak seorang pun datang.
Di salah satu sudut kulihat sosoknya. Gadis yang menangis saat
Aku berjalan mendekat, berlutut di hadapannya. Ia memandangku. Kurengkuh dirinya dalam pelukan.
Saat ini dialah yang paling membutuhkan pelukan dari seseorang.
***
Kemiliteran mengirimkan barang-barang milik
Diane menghidupkan lampu kamar
Aku melangkah ke depan rak, dan memandangi pigura-pigura itu. Hatiku terasa tersayat melihat foto kami berdua pada salah satu pigura itu. Kami bergandengan tangan, tersenyum cerah.
Air mata mulai merebak, aku memalingkan wajah ke arah kotak yang berisi barang-barang milik
Diane meletakkan pigura itu. “Keterlaluan. Bahkan jasadnya tak kembali.”
Tanganku bergetar, menyentuh kotak itu.
Diane benar… Bahkan jasadnya tidak kembali.
Kupandangi benda-benda di hadapanku dengan hati pilu. Seragam hijau. Muts. Tanda-tanda pangkat. Badge yang belum dijahit. Seragam lapangan…
“Apa ini?” tanya Diane, mengangkat sebuah kotak biru di lantai. Aku mendekat, dan membuka tutup kotak itu.
Sebuah pesawat kayu tergeletak dalam kotak hitam itu. Warna merah sayapnya yang lebar begitu berkilau ditimpa cahaya lampu.
Ini… Pesawat ini…
Dengan tangan gemetar kuamati setiap detil pesawat itu. Aku tak mungkin lupa bentuk baling-baling itu, tempat duduk, sayap, dan ekornya. Pesawat ini, adalah replika yang sempurna dari Rhett Butler-ku.
“Aimee… Ini…” bisik Diane dengan suara tertahan. Diulurkannya sebuah kartu berwarna biru cerah. Secerah langit
Perlahan, kubuka kartu kecil itu. Tulisan Eugene yang ramping dan panjang-panjang menyambutku. Hanya ada tiga kata di
Aimee, maafkan aku.
Tak terkira pedihnya hatiku saat itu. Bulir-bulir hangat membasahi pipiku.
Kupandangi pesawat merah itu sekali lagi. Betapa miripnya. Tak ada bagian yang berbeda.
Kecuali satu. Di dekat ekor pesawat itu terukir sebuah nama yang ditegaskan dengan tinta hitam berkilau.
Rhett Butler.
Aku menelungkup di lantai, memeluk pesawat merah itu sambil menangis tersedu-sedu.
***
Bintang-bintang nampak berkilau dilatarbelakangi langit senja ungu bersemu merah. Kubuka pintu pagar, dan kutuntun perlahan sepedaku memasuki halaman. Lampu-lampu sudah dinyalakan. Semua, kecuali lampu salah satu kamar di lantai dua.
Kusandarkan sepeda di samping rumah, kemudian aku berjalan ke arah Uncle Crooks. Aku duduk di atas ayunan yang tergantung pada salah satu cabangnya.
Kupandangi ruang tanpa cahaya itu. Pemandangan yang sama sejak
Pemandangan yang sama. Tapi sekarang, ada rasa hampa dan kepedihan yang menyusup lebih dalam.
Aku berayun perlahan, memandangi cabang-cabang pohon oak tua ini. Saat itu, di cabang manakah ia duduk? Dari cabang yang mana ia melemparkan pesawat merah itu, dan mengawali kehancuran hatiku?
Maaf…
When the deep purple falls
Over sleepy garden walls,
And the stars beam to flicker in the sky
Thru the mist of memory,
You wander back to me
Breathing my name with a sigh
In the still of the night,
Once again I hold you tight,
Though you’re gone,
your love lives on
When moonlight beams
And as long as my heart will beat
Lover, we’ll always meet
Here in my deep purple dreams..
Fin